Kalimantan Selatan Membara Bmkg Deteksi 473 Titik Panas

Gambar ilustrasi Kalimantan Selatan Membara Bmkg Deteksi 473 Titik Panas

BMKG sebelumnya memperingatkan musim kemarau tahun ini berpotensi lebih kering dan panjang karena pengaruh El Nino, dengan puncak diperkirakan terjadi pada Agustus hingga September. Kondisi itu dinilai meningkatkan risiko karhutla, terutama di wilayah selatan khatulistiwa seperti Sumatera bagian selatan dan Kalimantan.

Mencegah karhutla jauh lebih efektif dan efisien daripada memadamkannya setelah terjadi. Dengan adanya deteksi dini dari BMKG dan respons cepat dari pihak terkait, diharapkan potensi Karhutla Kaltim dapat diminimalisir. Kerjasama antara pemerintah, masyarakat, dan sektor swasta akan sangat menentukan keberhasilan upaya pencegahan ini.

Berdasarkan informasi yang diterimanya, hingga 16 Juli 2026 luas lahan yang terbakar di Kalimantan Selatan mencapai 383,07 hektare, terdiri atas 29,44 hektare lahan gambut dan 353,63 hektare lahan mineral. Sementara itu, secara nasional luas area terdampak karhutla sepanjang Januari hingga Juni 2026 telah mencapai sekitar 107 ribu hektare.

Sonny menjelaskan, tidak seluruh hotspot yang terdeteksi satelit merupakan kebakaran nyata. Di Kalimantan Selatan, terdapat 34 hotspot berkategori sedang hingga tinggi yang tersebar di sembilan kabupaten/kota, dengan konsentrasi terbanyak berada di Kabupaten Tapin sebanyak 13 titik.

Gambar terkait Kalimantan Selatan Membara Bmkg Deteksi 473 Titik Panas

Read more

Menyikapi potensi Karhutla Kaltim yang tinggi, BMKG menyampaikan sejumlah imbauan penting kepada masyarakat. Warga diminta untuk tidak membakar sampah sembarangan karena api dapat dengan mudah merambat ke lokasi lain. Selain itu, membuang puntung rokok yang masih menyala juga sangat berbahaya, terutama jika mengenai daun kering di hutan atau lahan perkebunan.

"Kalau sebelumnya kalau ada titik api, ada hot spot itu kita padamkan. Tapi kalau sekarang, sebelum terjadi itu kita mencegah atau kita melakukan upaya preventif," ujarnya.

Titik panas ini muncul akibat kondisi cuaca di langit Kaltim yang cenderung panas dalam beberapa pekan terakhir. Tingkat kepercayaan terhadap titik panas yang terdeteksi juga cukup tinggi, menunjukkan potensi kebakaran yang nyata. Sebagai contoh, delapan titik panas di Kabupaten Berau memiliki tingkat kepercayaan 8 dan 9, tersebar di Kelay, Pulau Derawan, Sambaliung, Segah, Tabalar, dan Talisayan.

Bagi unsur pemerintah, khususnya Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), diimbau untuk segera melakukan pengecekan terhadap titik panas yang telah terdeteksi. Tim BPBD bersama unsur terkait akan memastikan apakah titik panas tersebut berpotensi menyebabkan karhutla atau bahkan sudah terjadi kebakaran. Jika terbukti rawan, penanganan akan langsung dilakukan di lokasi.

Gambar terkait Kalimantan Selatan Membara Bmkg Deteksi 473 Titik Panas

Read more

ILUSTRASI. Informasi sebaran titik panas di Provinsi Kaltim, dirilis BMKG Balikpapan, Ahad (25/2)

Kondisi cuaca panas yang melanda Kalimantan Timur dalam beberapa waktu terakhir menjadi faktor utama pemicu munculnya banyak titik panas. Fenomena ini meningkatkan risiko terjadinya karhutla yang dapat berdampak luas terhadap lingkungan dan kesehatan masyarakat. Oleh karena itu, kewaspadaan dini dari seluruh elemen masyarakat sangat diperlukan.

JawaPos.com - Anggota Komisi IV DPR RI, Sonny T. Danaparamita, meminta pemerintah meningkatkan kewaspadaan dan memperkuat upaya penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) menyusul munculnya ribuan titik panas (hotspot) di sejumlah wilayah Indonesia, terutama Kalimantan Selatan dan Sumatera.

BMKG mengimbau masyarakat untuk tidak melakukan aktivitas pembakaran sembarangan, mengingat kondisi cuaca yang sangat mendukung terjadinya karhutla. Pemerintah daerah dan instansi terkait juga diminta untuk segera melakukan pengecekan dan penanganan. Langkah proaktif sangat penting untuk memitigasi risiko bencana ini.

Sejumlah wilayah di Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) berpotensi mengalami kebakaran hutan dan lahan (karhutla) seiring dengan deteksi signifikan titik panas. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Balikpapan mengeluarkan peringatan dini terkait kondisi ini. Kewaspadaan tinggi diperlukan dari seluruh pihak untuk mencegah meluasnya bencana karhutla di Kaltim.

Read more

Menurut Faisal, pemerintah telah mengubah paradigma penanganan karhutla sejak 2015, dari sebelumnya fokus pada pemadaman saat api muncul menjadi pencegahan sebelum kebakaran terjadi. BMKG kini memanfaatkan data kelembapan lahan gambut dan muka air tanah untuk memprediksi wilayah yang berpotensi terbakar.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memfokuskan upaya pencegahan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di enam provinsi rawan selama musim kemarau 2026 yang diperkirakan berbarengan dengan fenomena El Nino. BMKG menyebut pengawasan titik panas (hot spot) diperketat di wilayah Sumatera hingga Kalimantan.

BMKG Stasiun Balikpapan melaporkan adanya peningkatan jumlah titik panas yang terdeteksi di Kalimantan Timur dalam beberapa hari terakhir. Pada Sabtu (25/4), sebanyak 151 titik panas teridentifikasi tersebar di enam kabupaten/kota. Sebaran ini meliputi Kota Balikpapan (1), Kabupaten Paser (13), Kutai Barat (10), Kutai Timur (82), Kutai Kartanegara (37), dan Kabupaten Berau (8).

Ia juga mengapresiasi langkah-langkah yang telah dilakukan Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan setelah menetapkan Status Siaga Karhutla sejak 6 Juli hingga 31 Oktober 2026. Berbagai upaya yang telah dijalankan antara lain Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) sejak 15 Juli, pembasahan lahan gambut melalui pembukaan pintu air, patroli terpadu, serta penempatan 180 personel Brigdalkar Manggala Agni di daerah operasi Tanah Bumbu, Banjarbaru, dan Tanah Laut.

Ketua Tim Data dan Informasi BMKG Stasiun Kelas I Sultan Aji Muhammad Sulaiman Sepinggan Balikpapan, Carolina Meylita Sibarani, menegaskan bahwa cuaca panas ekstrem menjadi pemicu utama. Kondisi ini menyebabkan peningkatan jumlah titik panas yang terdeteksi di berbagai kabupaten/kota. Peringatan ini disampaikan pada Minggu (26/4) setelah serangkaian deteksi titik panas.

Read more

BMKG Stasiun Balikpapan mendeteksi 151 titik panas di Kalimantan Timur, menandakan potensi Karhutla Kaltim yang tinggi. Warga diimbau waspada dan tidak melakukan pembakaran sembarangan.

"Tentu saja, jadi ada enam provinsi yang kita fokuskan sekarang, yang kita jaga agar karhutla ini dapat bisa kita kendalikan yaitu mulai dari Riau, Jambi, Sumatera Selatan. Kemudian untuk Kalimantan ada tiga provinsi yaitu Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Barat," kata Faisal di Senayan, Jakarta Pusat, Sabtu (23/5/2026).

Sebelumnya, pada Jumat (23/4), BMKG juga mendeteksi 83 titik panas yang tersebar di lima kabupaten/kota. Wilayah tersebut meliputi Kota Bontang (1), Kabupaten Paser (9), Kutai Barat (4), Kutai Timur (48), dan Kutai Kartanegara (20), serta Berau (3). Data ini menunjukkan tren peningkatan yang memerlukan perhatian serius dari semua pihak.

Kepala BMKG Teuku Faisal Fatani mengatakan enam provinsi yang menjadi fokus pengendalian karhutla, yakni Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan.

BMKG sebelumnya memperingatkan musim kemarau tahun ini berpotensi lebih kering dan panjang karena pengaruh El Nino, dengan puncak diperkirakan terjadi pada Agustus hingga September. Kondisi itu dinilai meningkatkan risiko karhutla, terutama di wilayah selatan khatulistiwa seperti Sumatera bagian selatan dan Kalimantan.

Mencegah karhutla jauh lebih efektif dan efisien daripada memadamkannya setelah terjadi. Dengan adanya deteksi dini dari BMKG dan respons cepat dari pihak terkait, diharapkan potensi Karhutla Kaltim dapat diminimalisir. Kerjasama antara pemerintah, masyarakat, dan sektor swasta akan sangat menentukan keberhasilan upaya pencegahan ini.

Berdasarkan informasi yang diterimanya, hingga 16 Juli 2026 luas lahan yang terbakar di Kalimantan Selatan mencapai 383,07 hektare, terdiri atas 29,44 hektare lahan gambut dan 353,63 hektare lahan mineral. Sementara itu, secara nasional luas area terdampak karhutla sepanjang Januari hingga Juni 2026 telah mencapai sekitar 107 ribu hektare.