Update Korban Gempa Ntt 100 Meninggal Dunia 180 327 Mengungsi

Jakarta: Jumlah korban meninggal dunia akibat gempa bumi yang mengguncang Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), mencapai 100 orang hingga Senin, 24 Agustus 2026. Sebagian korban sebelumnya mengalami luka berat dan menjalani perawatan di sejumlah fasilitas kesehatan, tetapi nyawanya tidak berhasil diselamatkan.
Selain korban jiwa, gempa tersebut menyebabkan 73.818 rumah rusak. Sebanyak 23.276 rumah di antaranya mengalami rusak berat.
JAKARTA, iNews.id - Korban meninggal akibat gempa bumi di Nusa Tenggara Timur (NTT) bertambah menjadi 100 orang hingga Senin (24/8/2026). Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) juga mencatat 1.603 orang mengalami luka-luka dan 180.327 jiwa masih berada di pengungsian.
"Ini mengakibatkan sampai hari kedelapan terjadinya gempa Flores ini, masyarakat masih banyak yang takut sehingga tetap mengungsi di luar rumah meskipun rumah-rumahnya tidak terdampak atau rusak ringan," imbuh dia.

Dari total aktivitas tersebut, sebanyak 33 gempa tercatat memiliki magnitudo 5 atau lebih. Sementara itu, gempa yang dirasakan masyarakat tercatat sebanyak 139 kali. Proses evakuasi penyintas bernama Yohanis Riba (75) yang mengalami memar kaki setelah tertimpa reruntuhan bangunan akibat gempa M 7,7 Flores di Bandara Frans Seda, Maumere, Kabupaten Sikka. (Dokumentasi/ BNPB)
Aktivitas gempa susulan membuat sebagian warga masih memilih bertahan di luar rumah. Kondisi tersebut juga terjadi pada masyarakat yang rumahnya tidak terdampak maupun hanya mengalami kerusakan ringan.
"Susulan yang terbesar ada 6,2 magnitudo. Kemudian, yang terkecil 1,1. Yang sama dengan atau lebih besar dari 5 magnitudo ada 33 kali. Dan gempa susulan, ya tentu saja yang 33 kali itu pasti dirasakan masyarakat. Tetapi dari 6.409 kali gempa itu ada 139 kali yang dirasakan oleh masyarakat," katanya.
Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letjen TNI Suharyanto mengatakan pada hari pertama dan kedua setelah gempa tercatat 48 orang meninggal dunia. Jumlah tersebut kemudian bertambah setelah sejumlah korban luka berat yang menjalani perawatan meninggal dunia.

"Per hari ini yang meninggal dunia ada 100 (jiwa), kemudian korban yang mengalami luka ada 1.603 jiwa dan warga yang mengungsi ada 180.327 jiwa," ungkap Kepala BNPB Letnan Jenderal Suharyanto, ketika memberikan keterangan pers secara virtual pada Senin (24/8/2026).
"Untuk jumlah meninggal, ini perlu kami tegaskan, bahwa yang meninggal seratus ini adalah korban gempa yang semula luka berat, yang dirawat di fasilitas kesehatan, ini tidak berhasil diselamatkan, sehingga yang semula di hari pertama, hari kedua ada 48 yang meninggal dunia, angka per hari ini total menjadi seratus yang meninggal dunia," katanya sebagaimana dilansir Antara.
"Per hari ini yang meninggal dunia ada 100, kemudian luka-luka 1.603 jiwa, mengungsi 180.327 jiwa," kata Kepala BNPB Suharyanto dalam konferensi pers, Senin (24/8/2026), dilansifr dari detikNews.
Suharyanto menyebut, kondisi gempa susulan ini akan berlangsung sampai tiga atau empat minggu ke depan di mana menurut penjelasan BMKG kondisinya akan lebih stabil.

Saudara-saudara kita di Nusa Tenggara Timur tengah dirundung duka karena gempa M 7,7. Mari kita mengulurkan tangan untuk membantu meringankan beban yang sedang mereka hadapi. Kirim bantuan Anda melalui tautan https://bit.ly/BantuWargaNTT
Korban meninggal akibat gempa di Nusa Tenggara Timur (NTT) kini mencapai 100 orang. BNPB juga mencatat 1.603 orang mengalami luka-luka dan 180.327 orang mengungsi.
"Untuk jumlah meninggal, ini perlu kami tegaskan bahwa yang meninggal 100 ini adalah korban gempa yang semula luka berat, yang dirawat di fasilitas kesehatan, ini tidak berhasil diselamatkan. Sehingga yang semula di hari pertama hari kedua ada 48 yang meninggal dunia, angka per hari ini total menjadi 100 yang meninggal dunia," kata Suharyanto dalam konferensi pers, Senin.
Selain korban jiwa, gempa Flores menyebabkan 73.818 rumah mengalami kerusakan. Sebanyak 23.276 rumah masuk kategori rusak berat, 17.563 rusak sedang, dan 32.979 rusak ringan.
Oleh sebab itu, jumlah korban meninggal dunia terus bertambah sejak hari pertama gempa mengguncang NTT, pada Sabtu (15/8/2026).
Suharyanto mengungkapkan, gempa susulan masih terus terjadi hingga hari kedelapan pascagempa utama. Berdasarkan laporan BMKG, tercatat telah terjadi 6.409 kali gempa susulan.
Suharyanto menegaskan data korban dan kerusakan masih bersifat sementara. Proses pendataan terus dilakukan di lapangan dan hasilnya akan diperbarui sesuai perkembangan.
"Yang semula di hari pertama, hari kedua ada 48 yang meninggal dunia, angka per hari ini total menjadi 100 yang meninggal dunia," ucap dia.
"Per hari ini yang meninggal dunia ada 100 ya, kemudian luka-luka 1.603 jiwa, mengungsi 180.327 jiwa," ujar Kepala BNPB Letnan Jenderal TNI Suharyanto, dalam konferensi pers secara daring, Senin.
"Per hari ini yang meninggal dunia ada 100, kemudian luka-luka 1.603 jiwa, mengungsi 180.327 jiwa," kata Kepala BNPB, Suharyanto dalam konferensi pers dilihat YouTube BNPB, Senin (24/8/2026).
Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto menjelaskan, angka korban meninggal bertambah karena sejumlah korban yang sebelumnya mengalami luka berat dan menjalani perawatan di fasilitas kesehatan tidak berhasil diselamatkan.
“Ini mengakibatkan sampai hari ke-8 terjadinya gempa Flores ini, masyarakat masih banyak yang takut, sehingga tetap mengungsi di luar rumah, meskipun rumah-rumahnya tidak terdampak atau rusak ringan,' ujarnya, Senin, 24 Agustus 2026.
Terkait dengan aktivitas kegempaan yang meresahkan warga, BNPB merilis data dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) yang mencatat terjadinya 6.409 kali gempa hingga pukul 05.00 WIB pada hari ke-8 pascabencana.
Jumlah korban meninggal dunia tersebut bertambah sembilan jiwa dibandingkan data sehari sebelumnya, pada Minggu (23/8/2026).
Suharyanto mengatakan, korban meninggal dunia semula merupakan pasien luka-luka yang sempat mendapatkan perawatan intensif di fasilitas kesehatan atau rumah sakit darurat.
"Perlu kami tegaskan bahwa yang meninggal 100 ini adalah korban gempa yang semula luka berat gitu ya, yang dirawat di fasilitas kesehatan, ini tidak berhasil diselamatkan," ujar dia.
Kepala BNPB Suharyanto dalam konferensi pers yang digelar secara daring di Jakarta, Senin (24/8/2026), menjelaskan penambahan angka tersebut terjadi lantaran banyak korban luka berat yang dirawat intensif, namun akhirnya tidak dapat tertolong.
Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto dalam rapat koordinasi di Gempa NTT di Kabupaten Manggarai Barat. Dokumentasi BNPB
Meski aktivitas mulai berkurang, Suharyanto menyampaikan BMKG masih memperkirakan gempa susulan dapat berlangsung hingga tiga atau empat minggu ke depan sebelum kondisi semakin stabil.
Selain dampak korban dan kerusakan, aktivitas gempa susulan masih terjadi di wilayah Flores. Suharyanto mengatakan berdasarkan laporan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) hingga Senin pagi tercatat 6.409 kali gempa. Gempa susulan terbesar mencapai magnitudo 6,2, sedangkan yang terkecil bermagnitudo 1,1.
Menurut Suharyanto, aktivitas gempa dalam dua hari terakhir mulai mengalami penurunan. Dalam 24 jam terakhir, hanya tercatat satu gempa yang dirasakan masyarakat.
Suharyanto menegaskan seluruh data tersebut masih bersifat sementara. Data dampak gempa akan terus diperbarui seiring proses pendataan.
Ia menambahkan, data tersebut diperoleh personel BNPB secara berjenjang dimulai dari rukun tetangga, kampung, desa, camat, bupati dan dihimpun di tingkat nasional. Jenderal bintang tiga itu juga menyebut dampak gempa turut dirasakan di tujuh kabupaten.
Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto menjelaskan, tambahan korban meninggal berasal dari pasien yang sebelumnya mengalami luka berat dan menjalani perawatan di fasilitas kesehatan.