Update Korban Gempa Ntt 100 Meninggal Dunia 180 327 Mengungsi

Suharyanto menyebut, kondisi gempa susulan ini akan berlangsung sampai tiga atau empat minggu ke depan di mana menurut penjelasan BMKG kondisinya akan lebih stabil.
Suharyanto menegaskan data korban dan kerusakan masih bersifat sementara. Proses pendataan terus dilakukan di lapangan dan hasilnya akan diperbarui sesuai perkembangan.
Baca juga: Merawat Luka Tak Terlihat: Trauma Healing bagi Anak Penyintas Gempa NTT
JAKARTA - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan jumlah korban meninggal dunia akibat gempa bumi Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), bertambah menjadi 100 orang hingga Senin (24/8/2026). Selain itu, sebanyak 1.603 orang terluka dan 180.327 jiwa masih mengungsi.

Selain korban jiwa, BNPB mencatat sebanyak 73.818 unit rumah mengalami kerusakan. Rinciannya, 23.276 unit rusak berat, 17.563 unit rusak sedang, dan 32.979 unit rusak ringan.
Saudara-saudara kita di Nusa Tenggara Timur tengah dirundung duka karena gempa M 7,7. Mari kita mengulurkan tangan untuk membantu meringankan beban yang sedang mereka hadapi. Kirim bantuan Anda melalui tautan https://bit.ly/BantuWargaNTT
Kepala BNPB Suharyanto dalam konferensi pers yang digelar secara daring di Jakarta, Senin (24/8/2026), menjelaskan penambahan angka tersebut terjadi lantaran banyak korban luka berat yang dirawat intensif, namun akhirnya tidak dapat tertolong.
Sampai dengan hari ini atau hari kedelapan setelah gempa pertama, kata Suharyanto, BMKG melaporkan terjadi 6.409 kali gempa susulan di Flores.

Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letjen TNI Suharyanto mengatakan pada hari pertama dan kedua setelah gempa tercatat 48 orang meninggal dunia. Jumlah tersebut kemudian bertambah setelah sejumlah korban luka berat yang menjalani perawatan meninggal dunia.
"Yang semula di hari pertama, hari kedua ada 48 yang meninggal dunia, angka per hari ini total menjadi 100 yang meninggal dunia," ucap dia.
“Ini mengakibatkan sampai hari ke-8 terjadinya gempa Flores ini, masyarakat masih banyak yang takut, sehingga tetap mengungsi di luar rumah, meskipun rumah-rumahnya tidak terdampak atau rusak ringan,' ujarnya, Senin, 24 Agustus 2026.
Terkait dengan aktivitas kegempaan yang meresahkan warga, BNPB merilis data dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) yang mencatat terjadinya 6.409 kali gempa hingga pukul 05.00 WIB pada hari ke-8 pascabencana.

"Per hari ini yang meninggal dunia ada 100, kemudian luka-luka 1.603 jiwa, mengungsi 180.327 jiwa," kata Kepala BNPB Suharyanto dalam konferensi pers, Senin (24/8/2026), dilansifr dari detikNews.
Selain korban meninggal, BNPB mencatat 1.603 orang mengalami luka-luka dan 180.327 orang masih mengungsi. Data sementara BNPB menunjukkan sebanyak 73.818 unit rumah mengalami kerusakan akibat gempa. Kerusakan tersebut terdiri atas 23.276 rumah rusak berat, 17.563 rumah rusak sedang, dan 32.979 rumah rusak ringan.
"Untuk jumlah meninggal, ini perlu kami tegaskan bahwa yang meninggal 100 ini adalah korban gempa yang semula luka berat, yang dirawat di fasilitas kesehatan, ini tidak berhasil diselamatkan. Sehingga yang semula di hari pertama hari kedua ada 48 yang meninggal dunia, angka per hari ini total menjadi 100 yang meninggal dunia," kata Suharyanto dalam konferensi pers, Senin.
"Susulan yang terbesar ada 6,2 magnitudo. Kemudian, yang terkecil 1,1. Yang sama dengan atau lebih besar dari 5 magnitudo ada 33 kali. Dan gempa susulan, ya tentu saja yang 33 kali itu pasti dirasakan masyarakat. Tetapi dari 6.409 kali gempa itu ada 139 kali yang dirasakan oleh masyarakat," katanya.
JAKARTA, KOMPAS.com - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat jumlah korban meninggal dunia akibat gempa bumi di Nusa Tenggara Timur (NTT) mencapai 100 jiwa hingga Senin (24/8/2026).
Jumlah korban meninggal dunia tersebut bertambah sembilan jiwa dibandingkan data sehari sebelumnya, pada Minggu (23/8/2026).
Meski aktivitas mulai berkurang, Suharyanto menyampaikan BMKG masih memperkirakan gempa susulan dapat berlangsung hingga tiga atau empat minggu ke depan sebelum kondisi semakin stabil.
"Per hari ini yang meninggal dunia ada 100, kemudian luka-luka 1.603 jiwa, mengungsi 180.327 jiwa," kata Kepala BNPB, Suharyanto dalam konferensi pers dilihat YouTube BNPB, Senin (24/8/2026) dikutip dari detikNews.
Menurut Suharyanto, aktivitas gempa dalam dua hari terakhir mulai mengalami penurunan. Dalam 24 jam terakhir, hanya tercatat satu gempa yang dirasakan masyarakat.
"Per hari ini yang meninggal dunia ada 100, kemudian luka-luka 1.603 jiwa, mengungsi 180.327 jiwa," kata Kepala BNPB, Suharyanto dalam konferensi pers dilihat YouTube BNPB, Senin (24/8/2026).
“Kemudian, untuk jumlah meninggal, ini perlu kami tegaskan bahwa yang meninggal 100 ini adalah korban gempa yang semula luka berat, yang dirawat di fasilitas kesehatan, ini tidak berhasil diselamatkan, sehingga yang semula di hari pertama, hari kedua, ada 48 yang meninggal dunia, angka per hari ini total menjadi 100 yang meninggal dunia," kata Suharyanto dalam konferensi persnya, Senin, 24 Agustus 2026.
Selain korban jiwa, gempa tersebut menyebabkan 73.818 rumah rusak. Sebanyak 23.276 rumah di antaranya mengalami rusak berat.
"Untuk jumlah meninggal, ini perlu kami tegaskan, bahwa yang meninggal seratus ini adalah korban gempa yang semula luka berat, yang dirawat di fasilitas kesehatan, ini tidak berhasil diselamatkan, sehingga yang semula di hari pertama, hari kedua ada 48 yang meninggal dunia, angka per hari ini total menjadi seratus yang meninggal dunia," katanya sebagaimana dilansir Antara.
Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto dalam rapat koordinasi di Gempa NTT di Kabupaten Manggarai Barat. Dokumentasi BNPB
Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto menjelaskan, angka korban meninggal bertambah karena sejumlah korban yang sebelumnya mengalami luka berat dan menjalani perawatan di fasilitas kesehatan tidak berhasil diselamatkan.
Ia menambahkan, data tersebut diperoleh personel BNPB secara berjenjang dimulai dari rukun tetangga, kampung, desa, camat, bupati dan dihimpun di tingkat nasional. Jenderal bintang tiga itu juga menyebut dampak gempa turut dirasakan di tujuh kabupaten.
Aktivitas gempa susulan membuat sebagian warga masih memilih bertahan di luar rumah. Kondisi tersebut juga terjadi pada masyarakat yang rumahnya tidak terdampak maupun hanya mengalami kerusakan ringan.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyampaikan, korban gempa Nusa Tenggara Timur (NTT) yang meninggal dunia bertambah. Tercatat kini ada 100 orang yang meninggal dunia.
Selain korban meninggal dunia, Suharyanto menjelaskan bencana ini juga mengakibatkan 1.603 jiwa mengalami luka-luka dan sebanyak 180.327 jiwa harus bertahan di tempat-tempat pengungsian.
Untuk hal ini BNPB memproyeksikan kondisi gempa susulan ini akan terus berlangsung hingga tiga sampai empat minggu ke depan hingga lempeng bumi kembali stabil, namun trennya diyakini akan terus menurun.
"Per hari ini yang meninggal dunia ada 100 (jiwa), kemudian korban yang mengalami luka ada 1.603 jiwa dan warga yang mengungsi ada 180.327 jiwa," ungkap Kepala BNPB Letnan Jenderal Suharyanto, ketika memberikan keterangan pers secara virtual pada Senin (24/8/2026).
"Per hari ini yang meninggal dunia ada 100 ya, kemudian luka-luka 1.603 jiwa, mengungsi 180.327 jiwa," ujar Kepala BNPB Letnan Jenderal TNI Suharyanto, dalam konferensi pers secara daring, Senin.
Suharyanto menegaskan seluruh data tersebut masih bersifat sementara. Data dampak gempa akan terus diperbarui seiring proses pendataan.
Oleh sebab itu, jumlah korban meninggal dunia terus bertambah sejak hari pertama gempa mengguncang NTT, pada Sabtu (15/8/2026).