Bmkg Asap Karhutla Kalimantan Terbawa Angin Sampai Negara Tetangga

Gambar ilustrasi Bmkg Asap Karhutla Kalimantan Terbawa Angin Sampai Negara Tetangga

Pemerintah juga menambah kekuatan TNI AU untuk memperkuat operasi penanganan karhutla di wilayah Kalimantan.

Kepala Pusat Data dan Informasi (Pusdatin) BNPB, Berton Pandjaitan, mengatakan karhutla tidak mengenal batas administrasi ataupun batas negara. Karena itu, penanganannya perlu dilakukan bersama tanpa memperdebatkan sumber asap secara spekulatif.

Berton mengatakan pemerintah Indonesia memahami kekhawatiran negara-negara tetangga terhadap kemungkinan dampak asap lintas batas. Pemerintah, menurut dia, telah mengerahkan sumber daya besar untuk mengendalikan karhutla.

Deputi Bidang Klimatologi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Ardhasena Sopaheluwakan mengungkap penyebab asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah Kalimantan terbawa hingga ke negara tetangga. Ia menyebutkan penyebabnya adalah pengaruh pergerakan angin.

"Jadi pendekatan kita bukan saling menyalahkan, tetapi bagaimana masing-masing negara melakukan upaya maksimal di wilayahnya dan bersama-sama mengurangi dampak asap lintas batas," ujarnya.

Ardhasena menjelaskan asap karhutla dapat bergerak mengikuti pola angin musiman yang secara rutin terjadi. Kondisi tersebut membuat asap dari wilayah Indonesia berpotensi mencapai kawasan negara lain.

Baca selengkapnya

"Jadi fokus kita saat ini adalah mengendalikan api sedekat mungkin dari sumbernya dan secepat mungkin, karena apabila sumber kebakaran dapat dikendalikan, maka produksi asap dan potensi dampak lintas batas juga dapat kita tekan," ucap Berton.

Ardhasena mengatakan langkah penanganan dan antisipasi dampak asap karhutla saat ini dikoordinasikan oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). BNPB, menurut dia, meminta negara-negara tetangga, seperti Malaysia dan Singapura, tidak saling menyalahkan terkait dampak asap karhutla di Kalimantan.

"Asap karhutla sampai ke negara tetangga karena terbawa angin," kata Ardhasena dalam keterangan di Jakarta, dilansir Antara, Senin (24/8/2026).

"Yang perlu kami sampaikan, Indonesia saat ini sudah melakukan upaya secara optimal dan mengerahkan sumber daya yang sangat besar untuk mengendalikan karhutla," ungkapnya.

Berton menyebutkan pemerintah telah mengerahkan 52 pesawat untuk operasi karhutla di enam provinsi prioritas. Sebanyak 30 pesawat beroperasi di Kalimantan, sedangkan 22 pesawat lainnya ditempatkan di Sumatra.

Pemerintah juga menambah kekuatan TNI AU untuk memperkuat operasi penanganan karhutla di wilayah Kalimantan.

Baca selengkapnya

Kepala Pusat Data dan Informasi (Pusdatin) BNPB, Berton Pandjaitan, mengatakan karhutla tidak mengenal batas administrasi ataupun batas negara. Karena itu, penanganannya perlu dilakukan bersama tanpa memperdebatkan sumber asap secara spekulatif.

Berton mengatakan pemerintah Indonesia memahami kekhawatiran negara-negara tetangga terhadap kemungkinan dampak asap lintas batas. Pemerintah, menurut dia, telah mengerahkan sumber daya besar untuk mengendalikan karhutla.

Deputi Bidang Klimatologi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Ardhasena Sopaheluwakan mengungkap penyebab asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah Kalimantan terbawa hingga ke negara tetangga. Ia menyebutkan penyebabnya adalah pengaruh pergerakan angin.

"Jadi pendekatan kita bukan saling menyalahkan, tetapi bagaimana masing-masing negara melakukan upaya maksimal di wilayahnya dan bersama-sama mengurangi dampak asap lintas batas," ujarnya.

Ardhasena menjelaskan asap karhutla dapat bergerak mengikuti pola angin musiman yang secara rutin terjadi. Kondisi tersebut membuat asap dari wilayah Indonesia berpotensi mencapai kawasan negara lain.

"Jadi fokus kita saat ini adalah mengendalikan api sedekat mungkin dari sumbernya dan secepat mungkin, karena apabila sumber kebakaran dapat dikendalikan, maka produksi asap dan potensi dampak lintas batas juga dapat kita tekan," ucap Berton.

Baca selengkapnya

Ardhasena mengatakan langkah penanganan dan antisipasi dampak asap karhutla saat ini dikoordinasikan oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). BNPB, menurut dia, meminta negara-negara tetangga, seperti Malaysia dan Singapura, tidak saling menyalahkan terkait dampak asap karhutla di Kalimantan.

"Asap karhutla sampai ke negara tetangga karena terbawa angin," kata Ardhasena dalam keterangan di Jakarta, dilansir Antara, Senin (24/8/2026).

"Yang perlu kami sampaikan, Indonesia saat ini sudah melakukan upaya secara optimal dan mengerahkan sumber daya yang sangat besar untuk mengendalikan karhutla," ungkapnya.

Berton menyebutkan pemerintah telah mengerahkan 52 pesawat untuk operasi karhutla di enam provinsi prioritas. Sebanyak 30 pesawat beroperasi di Kalimantan, sedangkan 22 pesawat lainnya ditempatkan di Sumatra.

Pemerintah juga menambah kekuatan TNI AU untuk memperkuat operasi penanganan karhutla di wilayah Kalimantan.

Baca selengkapnya

Kepala Pusat Data dan Informasi (Pusdatin) BNPB, Berton Pandjaitan, mengatakan karhutla tidak mengenal batas administrasi ataupun batas negara. Karena itu, penanganannya perlu dilakukan bersama tanpa memperdebatkan sumber asap secara spekulatif.

Berton mengatakan pemerintah Indonesia memahami kekhawatiran negara-negara tetangga terhadap kemungkinan dampak asap lintas batas. Pemerintah, menurut dia, telah mengerahkan sumber daya besar untuk mengendalikan karhutla.

Deputi Bidang Klimatologi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Ardhasena Sopaheluwakan mengungkap penyebab asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah Kalimantan terbawa hingga ke negara tetangga. Ia menyebutkan penyebabnya adalah pengaruh pergerakan angin.

"Jadi pendekatan kita bukan saling menyalahkan, tetapi bagaimana masing-masing negara melakukan upaya maksimal di wilayahnya dan bersama-sama mengurangi dampak asap lintas batas," ujarnya.

Ardhasena menjelaskan asap karhutla dapat bergerak mengikuti pola angin musiman yang secara rutin terjadi. Kondisi tersebut membuat asap dari wilayah Indonesia berpotensi mencapai kawasan negara lain.

"Jadi fokus kita saat ini adalah mengendalikan api sedekat mungkin dari sumbernya dan secepat mungkin, karena apabila sumber kebakaran dapat dikendalikan, maka produksi asap dan potensi dampak lintas batas juga dapat kita tekan," ucap Berton.

Ardhasena mengatakan langkah penanganan dan antisipasi dampak asap karhutla saat ini dikoordinasikan oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). BNPB, menurut dia, meminta negara-negara tetangga, seperti Malaysia dan Singapura, tidak saling menyalahkan terkait dampak asap karhutla di Kalimantan.

"Asap karhutla sampai ke negara tetangga karena terbawa angin," kata Ardhasena dalam keterangan di Jakarta, dilansir Antara, Senin (24/8/2026).

"Yang perlu kami sampaikan, Indonesia saat ini sudah melakukan upaya secara optimal dan mengerahkan sumber daya yang sangat besar untuk mengendalikan karhutla," ungkapnya.

Berton menyebutkan pemerintah telah mengerahkan 52 pesawat untuk operasi karhutla di enam provinsi prioritas. Sebanyak 30 pesawat beroperasi di Kalimantan, sedangkan 22 pesawat lainnya ditempatkan di Sumatra.

Pemerintah juga menambah kekuatan TNI AU untuk memperkuat operasi penanganan karhutla di wilayah Kalimantan.

Kepala Pusat Data dan Informasi (Pusdatin) BNPB, Berton Pandjaitan, mengatakan karhutla tidak mengenal batas administrasi ataupun batas negara. Karena itu, penanganannya perlu dilakukan bersama tanpa memperdebatkan sumber asap secara spekulatif.

Berton mengatakan pemerintah Indonesia memahami kekhawatiran negara-negara tetangga terhadap kemungkinan dampak asap lintas batas. Pemerintah, menurut dia, telah mengerahkan sumber daya besar untuk mengendalikan karhutla.

Deputi Bidang Klimatologi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Ardhasena Sopaheluwakan mengungkap penyebab asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah Kalimantan terbawa hingga ke negara tetangga. Ia menyebutkan penyebabnya adalah pengaruh pergerakan angin.

"Jadi pendekatan kita bukan saling menyalahkan, tetapi bagaimana masing-masing negara melakukan upaya maksimal di wilayahnya dan bersama-sama mengurangi dampak asap lintas batas," ujarnya.

Ardhasena menjelaskan asap karhutla dapat bergerak mengikuti pola angin musiman yang secara rutin terjadi. Kondisi tersebut membuat asap dari wilayah Indonesia berpotensi mencapai kawasan negara lain.